Lara

Detak jantung menggemuruh

Pikiran melayang nan jauh dimana

Berkelibat bayangan satu rupa

Yang dibenak terus bersemayam

Berasa perih tak pernah jumpa

Mendustakan segala suka

Bagi hati yang terluka

Menanti dirinya

Berasakan akan dating

Satu waktu yang tertentu

Pijar makin menyuram

Begitu mata menyalip terpejam

Kisah lama akan terulang

Begitu pandangan melebar

Lara kan kembali terasakan

Di hati yang tak mengidamkan

Tertahan tuk bahagiakan

Satu rupa yang dipujakan

Merelakan tuk berjalan

Melangkahkan kaki tuk terhindar

Dan terlepas dari jerat

Anak kecil yang ingusan

Tak Rasakan Cintaku

Cintanya berjalan ikutinya

Aku, dia tinggalkan tanpa dihiraukan

Menggandengnya mendampinginya

Menyakitkan hati yang tertinggalkan

Tak bisa ucapkan larangan padanya

Aku hanya teman bukan kekasihnya

Cinta yang kuberikan

Bahkan tak ia rasakan

Hanya teman pasti yang dia pikirkan

Aku tahu benar itu

Aku sangat rasakan itu

Kian hari makin meluaskan

Sobekkan pada hart yang terdustai

Aku sakiti batinku

Aku tinggalkan senyumku

Aku pasrahkan jiwaku

Kepada sang esa aku berkeluh

Kesahkupun kucurahkan

Langkah yang terlewati

Hanya teteskan pedih mendalam

Mendasari cinta yang terabaikan

Tanpa berbalas

Tanpa rasakan kehangatannya

Aku tetap cintainya

Aku tetap menjaga hatiku

Untuk pertama dan kesekian kali

Ini terulang ku tolak pasti

Dia pergi aku pergi

Dia datang aku tetap sendiri

Disini tanpa menanti

Tanpa balasan

Tanpa dia rasakan

Pertama dan Terakhir

Teringat kenangan pertama

Pertama aku melihat senyumannya

Pertama telinga ini mendengar tutur katanya

Pertama aku cium aroma tubuhnya

Dan pertama aku menjabat tangannya

Tak sedikitpun rasa terpendam untuknya

Terlewati kini hari – hari tanpanya

Tak rasakan hati yang berbeda

Saat tanpa sengaja bertemu dengannya

Mengemukakan sedikit senyum tanpa sapa

Pada dirikupun juga

Namun berbeda saat kembali bersama

Tak hanya canda tawa bahkan mesra

Entah apa terlukis raut wajahnya

Kian lama hati rasakan istimewa

Jantung berdetup kencang didekatnya

Jari bergetar saat menjabatnya

Tak kedip mata ingin melihatnya

Mungkinkah dia juga merasakannya

Aku rasa tidak untuknya

Karna itu ka akan ku mengakuinya

Sampai dia tahu sebenarnya

Apa yang aku rasa

Dan apa yang aku simpan untuknya

Hanya hati dan aku yang tahu

Yang kurasa tak aku buka

Untuk selamanya

Entah pertama

Atau terakhir kalinya

Aku mengenal

Dan berjumpa dengannya

Dalam Hidupku

Kala mataku terpejam

Aku ingin saat kubuka ada kamu dihadapanku

Setiap tetes harapan yang mengalir

Dalam nadiku yang terus kau getarkan

Aku dambakan kehidupan bahagiamu bersamaku

Kala nafasku berhenti

Aku ingin dalam kenanganmu hanya ada aku

Yang akan tuntunmu melangkah gapai impianmu

Kala badanku tak lagi dapat bergerak

Aku ingin kamu hanya renungiku

Walaupun aku tahu betapa egoisnya aku

Jika aku lakukan itu

Dan mengharapkanmu tak temukan selain aku

Semua demimu

Tak ada yang ingin kulakukan selain bahagiakanmu

Dalam pejam.

Dalam hentinya nafas

Ataupun dalam kediaman yang terpatung.

Dan kau

Tak akan robohkan pohon cintaku yang terbibit bersamamu

Yang tersirami kasih sayangmu

Yang berbuah kebahagiaanmu

Yang akan lindungimu dalam gelapnya hidup

Dan akan lindungimu dari badai masalahmu

Karana aku tahu betapa aku dan kamu saling menyayangi

selamanya

Cinta Yang Terhapus

saat hatiku tak bisa temukan kamu

tangispun tak bisa terbendungkan

aku yang ingin lihat kamu

tak dapat hentikan alir cinta yang tak tersampaikan

setiap kali ku ingin dekat

dia selalu ada di sampingmu

setiap saat yang aku rasakan sedih

kamu tertawa bersamanya

dan setiap kali aku ingin hapuskan rasa sayang ini

aku selalu dihampiri sakit yang sangat

namun kala aku tak ingin melupakanmu

datang dia yang bahagiakanku

sampai kau mengemis cintaku

dan kau tahu

satu hal yang ingin ku kembalikan padamu

sesuatu yang tak dapat kita miliki

kebahagiaan yang tak tersampaikan

kala aku mencintaimu

dan kala kamu mencintaiku

rasa itu hilang sedemikian berjalannya waktu

aku tahu kamu

dan kamu tahu aku

aku menyayangimu dulu

dan kamu menyayangiku sekarang

dan tidak untuk selamanya

Menanti

Detik waktu terlewati

Berkeluh serta kesah

Duduk ditaman istimewa

Menanti dia yang ingin berjumpa

Dibawah surya tengah hari

Bermandikan peluh diri

Hanya tuk mencoba setia

Menguji diri lewat penantian

Berharap cepat datang

Cepat tepati janjinya

Berandai ada yang baik hati

Menawarkan segelas air dingin

Tuk hilangkan dahaga yang terasa

Kian lama menanti

Surya mencondongkan dirinya

Akankah kesetiaan ini terus merelakan

Diri ini tuk tersakiti

Untuk kesekian kali

Terbohongi lagi

Lidahnya yang menjilat

Yang membuat terus mengiyakan

Dusta yang terucap

Disekian janji yang terikrarkan

Hati ini sulit tuk lanjutkan

Memikul beban batin yang berbuah

Kesedihan yang membekas

Sebagai sisa siksa lembut itu

Kesabaran hati ini melayu

Tak berbenah lagi

Terhempas angin senja

Kau dan Sahabatku

Kamu yang selalu temani

Tidurku dalam mimpi

Memuatku jatuh hati tanpa balasan

Kamu yang aku cintai

Mencintai dia yang kusayangi

Persahabatan ini

Sampai di ujung tanduk

Aku mulai tak sukainya

Karna dia miliki yang kucintai

Karna dia rasakan kasih yang kuinginkan

Aku ingin membencinya

Tapi aku tak ingin sakitimu

Keegoisan kini rajai hatiku

Sama sekali tak terkendali

Cintaku tak terbalaskan

Namun dia adalah gapaianmu

Aku ingin sakitinya

Seperti dia menyakitiku

Tapi kamu

Halangiku tuk lukainya

Kau lindunginya

Dengan kasih dan cintamu

Dan aku kau patahkan

Dengan penuh kebencianmu

Aku kalah bahkan telak

Karna dia

Yang ku benci kini

Cintamu yang tersetiakan dalam hati

Dan aku diam

Mengalah karnaku benar kalah

Satu ucapku

Bahagia dengan cintamu

Jalanmu kian panjang

Jagalah sahabatku

Bahagiakan dia

Karna kau dan dia

Adalah belahan jiwaku